Senin, 10 Juni 2013

kesejahteraan sosial



A. Definisi atau pengertian kesejahteraan sosial
Asal usul kata kesejahteraan sosial, yaitu :
·         Kesejahteraan menurut Spicker diartikan sebagai “well-being ” atau kondisi sejahtera.Sejahtera berarti aman sentosa, makmur, dan selamat, artinya terlepas dari segala macam gangguan dan kesukaran.
·         Sosial adalah dari bahasa inggris yaitu “social ” yang berarti ramah tamah, senang sekali bergaul dan kemasyarakatan.
Ada beberapa pendapat para ahli yang mengemukakan kesejarteraan sosial, yaitu :
·         Menurut Walter A. Friedlander, 1961 dalam Pengantar Kesejahteraan Sosial oleh Drs. Syarif Muhidin, Msc.
 Kesejahteraan sosial adalah sistem yang terorganisir dari pelayanan-pelayanan sosial dan lembaga-lembaga yang bertujuan untuk membantu individu dan kelompok untuk mencapai standar hidup dan kesehatan yang memuaskan dan relasi-relasi pribadi dan sosial yang memungkinkan mereka mengembangkan kemampuannya sepenuh mungkin dan meningkatkan kesejahteraannya secara selaras dengan kebutuhan keluarga dan masyarakat “.
·         Menurut Dwi Heru Sukoco, 1995 dari buku Introduction to Social Work Practice oleh Max Siporin.
Kesejahteraan sosial mencakup semua bentuk intervensi sosial yang secara pokok dan langsung untuk meningkatkan keadaan yang baik antara individu dan masyarakat secara keseluruan. Kesejahteraan sosial mencakup semua tindakan dan proses secara langsung yang mencakup tindakan dan pencegahan masalah sosial, pengembangan sumber daya manusia dan peningkatan kualitas hidup”.
·         Kesejahteraan sosial adalah sebuah sistem yang meliputi program dan pelayanan yang membantu orang agar dapat memenuhi kebutuhan sosial, ekonomi, pendidikan dan kesehatan yang sangat mendasar untuk memelihara masyarakat. (Zastrow, 2000).
·         Sebagaimana batasan PBB, kesejahteraan sosial adalah kegiatan-kegiatan yang terorganisasi yang betujuan untuk membantu individu atau masyarakat guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya dan meningkatkan kesejahteraan selaras dengan kepentingan keluarga dan masyarakat. (Suharto, 2005).
·         Arthur Dunham, mengemukakan kesejahteraan sosial sebagai suatu bidang usaha manusia, dimana di dalamnya terdapat berbagai macam badan atau usaha sosial yang tujuannya meningkatkan kesejahteraan dari segia sosial pada bidang-bidang kehidupan keluarga dan anak, kesehatan, penyesuaian sosial, waktu senggang, standar-standar kehidupan dan hubungan-hubungan sosial.
B. Tujuan Kesejahteraan Sosial
Berdasarkan Pasal 3 UU Nomor 11/2009, Penyelenggaraan kesejahteraan sosial bertujuan:
1.      Meningkatkan taraf kesejahteraan, kualitas dan kelangsungan hidup.
2.      Memulihkan fungsi sosial dalam rangka mencapai kemandirian.
3.      Meningkatkan ketahanan sosial masyarakat dalam mencegah dan menangani masalah kesejahteraan sosial.
4.      Meningkatkan kemampuan, kepedulian dan tanggungjawab sosial dunia usaha dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial secara melembaga dan berkelanjutan.
5.      Meningkatkan kemampuan dan kepedulian masyarakat dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial secara melembaga dan berkelanjutan
6.      Meningkatkan kualitas manajemen penyelenggaraan kesejahteraan sosial.
C. Usaha Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan
Nilai-nilai Dasar dan Sumber Usaha Kesejahteraan Sosial adalah nilai-nilai yang menjadi sumber untuk menentukan arah serta sasaran usaha Kesejahteraan Sosial. Nilai-nilai tersebut antara lain:
1.      Pancasila merupakan sumber formal yang utama karena sila-sila Pancasila merupakan pengakuan terhadap nilai-nilai dasar lainnya.
2.      Religius, dalam praktek nilai religius mendasari usaha-usaha kesejahteraan sosial yang bersifat amal, sedekah dan lain sebagainya, secara umum disebut dengan karitas.
3.      Sosial Budaya, nilai-nilai sosial budaya mendasari usaha-usaha kesejahteraan sosial yang bersifat kemanusiaan dan kegotongroyongan atau kebersamaan. Istilah umum yang berkembang untuk usaha kesejahteraan sosial, jenis ini disebut istilah filantropis.
4.      Profesional, Nilai Profesional merupakan landasan bagi pelaksana usaha-usaha kesejahteraan yang ilmiah. Kebutuhan terhadap adanya usaha-usaha kesejahteraan dalam hal ini ditetapkan berdasarkan hasil diagnosis terhadap situasi dan kondisi tertentu yang dianggap bermasalah.
Profesi yang berkaitan langsung dengan usaha kesejahteraan sosial adalah Profesi Pekerjaan Sosial. Hubungan antara usaha kesejahteraan sosial dengan Pekerjaan Sosial dijelaskan pada pasal 1 ayat 4 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial: Pekerja Sosial Profesional adalah seseorang yang bekerja, baik di lembaga Pemerintah maupun swasta yang memiliki kompetensi dan profesi pekerjaan sosial, dan kepedulian dalam pekerjaan sosial yang diperoleh melalui pendidikan, pelatihan, dan atau pengalaman praktek pekerjaan sosial untuk melaksanakan tugas-tugas pelayanan dan penanganan masalah sosial.
Sedangkan para pekerja sosial sukarela adalah mereka yang aktif dalam usaha-usaha kesejahteraan sosial dalam berbagai motif pribadi atau kelompok. Apapun latar belakang pendidikan mereka tidak menjadi masalah. Berdasarkaan nilai-nilai dasar tersebut di atas dapat dikategorikan beberapa jenis usaha kesejahteraan sosial (UKS), yaitu:
1.      Usaha Kesejahteraan Sosial Karitatif Usaha Kesejahteraan Sosial kategori ini yang terkenal di Indonesia misalnya Usaha Kesejahteraan Sosial yang diselenggarakan oleh yayasan-yayasan sosial dan kelompok agama.
2.      Usaha Kesejahteraan Sosial Filantropis ada banyak sekali yayasan atau organisasi sosial yang bergerak dalam Usaha Kesejahteraan Sosial, yang mempunyai latar belakang kemanusiaan, misalnya Lembaga Swadaya Masyarakat yang bergerak dalam penanganan HIV/AIDS, korban narkotik, korban tindak kekerasan.
3.      Usaha Kesejahteraan Sosial Profesional yang semata-mata memberikan layanan primer yang secara operasional mempraktekkan Pekerjaan Sosial Profesional, misalnya Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3) yang digagas oleh Departemen Sosial Republik Indonesia.
Usaha-Usaha Kesejahteraan Sosial adalah semua upaya, program dan kegiatan yang ditujukan untuk mewujudkan, membina, memelihara dan mengembangkan kesejahteraan sosial.
Pekerjaan Sosial adalah suatu bidang keahlian yang mempunyai tanggung jawab untuk memperbaiki dan atau mengembangkan interaksi antara orang/sekelompok orang dengan lingkungan sosial mereka, sehingga memiliki kemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas kehidupan, mengatasi kesulitan dan mewujudkan aspirasi serta nilai-nilai mereka.
D. Pemberdayaan Kesejahteraan Sosial
Pemberdayaan sosial merupakan upaya yang diarahkan untuk mewujudkan warga negara yang mengalami masalah sosial agar mempunyai daya, sehingga mampu memenuhi kebutuhan dasarnya (UU Nomor 11 2009 tentang Kesejahteraan Sosial). Pengertian ini mesti dimaknai secara arif, yaitu bahwa tujuan pemenuhan kebutuhan dasar adalah tujuan awal agar secara bertahap kehidupan yang lebih berkualitas dan kemandirian dapat dicapai. Pemberdayaan sosial secara simultan juga diarahkan agar seluruh potensi kesejahteraan sosial dapat dibangun menjadi sumber kesejahteraan sosial yang mampu berperan optimal dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial.
Dalam melaksanakan tugas dan fungsi pemberdayaan sosial, telah ditetapkan struktur organisasi yang menjadi wadah penggerak berjalannya fungsi secara optimal, mempertimbangkan lingkup tugas yang meliputi pemberdayaan sosial keluarga, fakir miskin, dan komunitas adat terpencil (KAT) serta pendayagunaan nilai-nilai dasar kesejahteraan sosial dan kelembagaan sosial masyarakat. Undang Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial Bagian Keempat Pasal 12 dan Pasal 13 telah menempatkan pemberdayaan sosial sebagai bagian integral dalam sistem kesejahteraan sosial nasional. Oleh karena itu, sangatlah proporsional jika lingkup ini dikelola secara khusus melalui satuan organisasi Direktorat Jenderal Pemberdayaan Sosial.       
Lingkup tugas Direktorat Jenderal Pemberdayaan Sosial mengurusi dua persoalan utama yaitu:
a)      Kemiskinan dengan fokus penduduk miskin yang meliputi fakir miskin dan komunitas adat terpencil yang selain miskin juga mengalami keterpencilan secara geografis yang mengakibatkan ketertinggalan dalam berbagai aspek kehidupan, kerentanan dengan fokus keluarga rentan, serta keluarga pahlawan/perintis kemerdekaan yang mengalami kerentanan.
b)      Potensi dan sumber kesejahteraan sosial dalam pengelolaan pembangunan berbasis masyarakat (community-based) dengan fokus sumber daya manusia merupakan modal dasar mencakup tenaga kesejahteraan sosial, organisasi dan kelembagaan sosial masyarakat, jaringan kesejahteraan sosial, nilai dasar kesejahteraan sosial, yaitu keperintisan, kejuangan, kepahlawanan dan kesetiakawanan sosial.
E. Dorongan Kesejahteraan dan Kemanusiaan
Kesediaan membantu orang lain yang tidak dikenal sebelumnya, merupakan salah satu contoh minat sosial yang diungkapkan seorang tokoh psikologi, Alfred Adler.
Adler, menjelaskan bahwa manusia dimotivasi oleh dorongan sosial. Fungsi hidup yang sehat bukan hanya mencintai dan berkarya tetapi juga merasakan kebersamaan dengan orang lain dan mempedulikan kesejahteraan mereka.Dorongan sosial inilah yang mengajak kita untuk memberikan uluran tangan kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan bantuan. Uluran tangan ini salah satunya dapat diwujudkan dengan melakukan bakti sosial.
Minat sosial yang sedikit disinggung di atas, merupakan salah satu aspek dari konsep inti dari psikologi individual Adler. Minat sosial adalah sikap keterikatan diri dengan kemanusiaan secara umum serta empati kepada setiap anggota perorangan. Menurut Adler, minat sosial adalah bagian dari hakekat manusia dan dalam besaran yang berbeda muncul pada tingkah laku setiap orang.
Seseorang dengan minat sosial yang lebih besar, maka dikatakan manusia tersebut lebih memiliki sikap dan kesadaran untuk membantu masyarakat mencapai tujuan demi terciptanya masyarakat yang sempurna. Seperti membantu saudara kita yang masih membutuhkan bantuan. Selain itu, orang yang senang membantu dapat dikatakan memiliki social ability yang cukup kuat. Social ability menjelaskan mengenai bagaimana lingkungan sosial masuk ke dalam self (diri). Bagaimana merubah paradigma “aku” menjadi “kami”.
           

sumber daya yang ada di dunia



PEMANFAATAN SUMBER DAYA YANG LANGKA DALAM UPAYA MEMENUHI KEBUTUHAN
Kelangkaan atau keterbatasan adalah suatu keadaan yang menunjukkan bahwa kebutuhan manusia itu tidak terbatas jumlahny, sedangkan alat yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia sangat terbatas.Kebutuhan manusia semakin lama semakin bertambah banyak baik jumlah maupun jenisnya, sementara itu meskipun manusia berusaha memperbanyak alat pemuas kebutuhan tetapi kenyataannya menunjukkan bertambahnya kebutuhan manusia tidak sebanding dengan bertambahnya alat atau barang untuk memenuhi kebutuhannya.
Manusia adalah makhluk yang tidak pernah puas. Berapa banyakpun jumlah barang yang sudah dimiliki dan dikonsumsi, ia akan selalu merasa kekurangan. Hal ini terjadi karena kebutuhan manusia yang tidak terbatas.
Hal inilah yang mengakibatkan adanya kelangkaan atau keterbatasan alat – alat pemuas kebutuhan manusia yang meliputi keterbatasan sumber daya alam, sumber daya manusia dan sumber daya modal.
Untuk mengatasi kelangkaan atau keterbatasan sumber – sumber daya tersebut, dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu :
§        Menggali sumber daya yang ada
§        Memproduksi barang baru dengan alat produksi yang ada.
§        Memanfaatkan sumber daya yang tersedia dengan sebaik – baiknya.
Usaha – usaha yang lainnya dalam mengatasi kelangkaan sumber daya
Adapun usaha – usaha dalam mengatasi kelangkaan sumber daya dikelompokkan menjadi 2 cara, yaitu menyusun skala prioritas kebutuhan dan berlaku arif dan bijaksana dalam memanfaatkan sumber daya
1.        Menyusun Skala Prioritas Kebutuhan
Skala prioritas kebutuhan adalah suatu daftar tentang berbagai macam kebutuhan hidup yang disusun berdasarkan kepentingannya, dari yang paling penting dan mendesak, dapat ditunda pemenuhannya hingga tidak perlu dipenuhi. Dalam menyusun skala prioritas kebutuhan terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan di antaranya 2 point berikut :
·         Urutan pemuasan kebutuhan harus didasarkan pada tingkat kepentingan dan mendesak tidaknya kebutuhan tersebut . Langkah ini perlu dilakukan agar kita dapat menentukan kebutuhan apa saja yang perlu segera dipenuhi dan mana yang masih bisa ditunda pemenuhannya.
·         Disesuaikan dengan penghasilan. Karena semua kebutuhan tetap tidak akan terpenuhi apabila total uang yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan lebih besar daripada penghasilan.
2.        Berlaku Arif dan Bijaksana dalam Memanfaatkan Sumber Daya
Berlaku arif dan bijaksana dalam memanfaatkan sumber daya bisa diterapkan dengan melakukan usaha – usaha berikut :
·         Memanfaatkan  sumber daya alam secara efisien dan efektif  serta menggali yang belum terangkat.. Kegiatan ini perlu dilakukan agar sumber daya yang ada tidak cepat rusak atau puna dan yang baru dapat dimanfaatkan secara optimal. Contohnya : memperbaiki barang yang rusak.
·         Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan ketrampilan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Melalui kegiatan ini diarapkan terbentuk tenaga – tenaga terampil dan ahli di bidang sehingga dapat memaksimalkan kegunaan sumber daya. Misalnya, menyelenggarakan kursus menjahit dan pelatihan montir.
·         Mengelola dan mendayagunakan sumber modal secara tepat guna. Pengelolaan sumber daya modal secara tepat guna akan membuat seseorang mampu mengatur penghasilannya dengan benar. Bagi pengusaha, ia bisa mengefisienkan biaya operasional sehingga keuntungan yang diperole pun maksimal
a.         Sumber Daya Alam                                                                                                   
Sumber daya alam disediakan secara cuma – cuma oleh alam.Sumber daya alam itu dimanfaatkan guna meningkatkan kesejahteraan manusia. Jumlah sumber daya alam yang bisa digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia sangat banyak, diantaranya adalah tanah, barang tambang, air ( laut, sungai dan danau ), hutan dan segala isinya, udara dan sinar matahari.
Tanah, bisa digunakan untuk berbagai macam keperluan. Keperluan pertama untuk lahan pertanian, tempat menggembala ternak dan berkebun. Selain itu, tanah juga diperggunakan untuk mendirikan pabrik, toko, restoran atau tempat tinggal. Tanah juga diperlukan untuk membangun prasarana transportasi, seperti jalan dan jembatan.
Barang tambang adalah kekayaan yang dimiliki atau terdapat dibumi ini, seperti emas, perak, tembaga, bijih besi, timah, batu bara, bauksit, minyak tanah dan gas bumi.
Air ( laut, sungai dan danau ), sangat diperlukan oleh semua makhluk hidup. Dilaut, sungai dan waduk banyak terdapat ikan dan sumber kekayaan laut yang lainnya. Air juga dapat digunakan sebagai pembangkit tenaga listrik dan tempat rekreasi.
Hutan dan segala isinya, mencakup kayu, rotan, cendana. Dihutan juga banyak terdapat hewan yang kita jumpai seperti, rusa, lebah, burung, tapir dan babi hutan.
Udara dan sinar matahari, ini adalah hal yang paling penting bagi semua makhluk hidup. Selain itu juga penting untuk mengembangkan usaha pertanian, peternakan dan perkebunan. Lebih dari itu, sinar matahari juga bisa menghasilkan tenaga surya yang dapat menggantikan listrik dan minyak bumi.
b.         Sumber Daya Manusia
Untuk memanfaatkan semua sumber daya alam diperlukan sumber daya yang kedua, yaitu sumber daya manusia.Sumber daya alam yang kaya tidak ada artinya kalau tidak ada sumber daya manusia yang mampu mengolah sumber daya alam tersebut.
Sebagai contoh para petani memanfaatkan kesuburan tanah untuk menghasilkan produk – produk pertanian.Buruh tambang dan para ahli geologi menggali dan mengolah bahan – bahan tambang dan mineral.Nelayan mengurangi laut luas untuk mencari ikan.Pengusaha perkayuan menebang dan mengolah kayu – kayu yang ada dihutan. Ahli meteorology diperlukan antara lain untuk menganalisis perkembangan cuaca.

c.       Sumber Daya Modal
Kadang – kadang sumber daya manusia saja tidak cukup untuk memanfaatkan dan mengeksploitasi sumber daya alam.Untuk itu, diperlukan sumber daya modal atau capital.Sumber daya modal diperlukan agar kita bisa menghasilkan barang dan jasa dengan cepat dan efesien.Sebagai contoh untuk membuat kain diperlukan mesin pemintal.Dengan mesin pemintal, kain bisa diproduksi dengan cepat dan dalam jumlah yang banyak.

kurikulum



Komponen – komponen Kurikulum
Kajian komponen – komponen kurikulum ini meliputi :
Komponen Tujuan
Tujuan kurikulum adalah arah atau sasaran yang hendak dituju oleh proses penyelenggaraan pendidikan. Dalam setiap kegiatan sepatutnya mempunyai tujuan, karena tujuan menuntun kepada apa yang hendak dicapai atau sebagai gambaran tentang hasil akhir dari suatu kegiatan.
Tujuan yang hendak dicapai ada kalanya upaya pencapaiannya memerlukan jangka waktu yang lama atau jangka panjang dan ada kalanya memerlukan jangka waktu yang pendek. Tujuan jangka pendek merupakan bagian terpadu yang pencapaiannya merupakan langkah dalam mencapai tujuan jangka panjang. Jadi, dapat pula dikatakan bahwa keberadaan tujuan jangka panjang adalah tujuan akhir dari suatu kegiatan. Untuk mencapai tujuan akhir itu ditempuh langkah – langkah melalui pencapaian tujuan jangka pendek, yang keberadaannya dapat merupakan perantara yang menghubungkan tujuan – tujuan yang dapat segera dicapai dengan tujuan akhir.
Sekaitan dengan kurikulum sebagai suatu alat pencapaian tujuan pendidikan, tujuan akhir adalah tujuan pendidikan atau tujuan sekolah ia tidak dapat segera di capai dalam jangka waktu pendek, melainkan membutuhkan waktu yang lama. Untuk mencapai tujuan itu perlu melalui langkah – langkah pencapaian tujuan antara, yang aifatnya lebih sempit dan waktu yang dibutuhkannya pun lebih pendek, yaitu tujuan kurikulum, tujuan bidang studi, atau tujuan pelajaran. Meskipun demikian, tujuan antara sering kali membutuhkan langkah pencapaian segera, yakni tujuan yang menggambarkan hasil suatu kegiatan dalam proses pengajaran atau tujuan pengajaran.
Isi Kurikulum
Pengalaman belajar yang diperoleh siswa dari sekolah menjadi isi kurikulum. Siswa melakukan berbagai kegiatan dalam rangka memperoleh pengalaman belajar tersebut. Pengalaman – pengalaman ini dirancang dan diorganisasikan sedemikian rupa sehingga apa yang diperoleh siswa sesuai dengan tujuan.
Dalam menentukan jenis pengalaman yang menjadi isi kurikulum, adakalanya tujuan digunakan sebagai acuan, adakalanya sebaliknya, isi menjadi acuan sebagai tujuan. Hal ini bergantung pada konsep, rancang – bangun dan acuan filosofi yang digunakan. Bila pengalaman belajar itu lebih diutamakan, maka tujuan mengacu kepadanya. Sebaliknya, bila tujuan yang diutamakan, maka pengalaman belajar mengacu kepada tujuan.
Pada pihak yang memandang kurikulum sebagai rencana belajar, terutama yang berpedoman pada konsep kurikulum akademis, isi kurikulum adalah mata pelajaran – mata pelajaran yang harus dipelajari oleh siswa. Keberadaan isi kurikulum adalah rumusan tentang bahan – bahan pelajaran yang diambil dari berbagai disiplin ilmu. Pemikiran tentang isi kurikulum diarahkan pada jenis – jenis bahan pelajaran apa yang memungkinkan dapat dipelajari secara lebih baik. Pemikiran tentang isi kurikulum cenderung lebih menekankan pada ide – ide dasar dari berbagai disiplin ilmu. Ide – ide dasar itu disebut dengan “ struktur “ ilmu pengetahuan, yang keberadaannya merupakan hal – hal yang asasi dari berbagai mata pelajaran. Yang termasuk kedalam struktur adalah konsep dasar, dalil, hukum atau teori. Hal yang asasi ini lebih besar nilainyadari fakta, karena fakta bersifat lepas – lepas, sehingga mudah terlupakan. Adapun struktur memuat prinsif – prinsif yang bersifat umum. Bila hal ini betul – betul dikuasai, akan sulit terlupakan dan dapat dialihkan pada situasi baru atau dapat diterapkan pada situasi yang relevan. Kegagalan yang sering terjadi dalam pendidikan yang menggunakan kurikulum akademis, diantaranya disebabkan oleh isinya yang memuat berbagai fakta yang terkait dengan suatu bidang atau suatu mata pelajaran.
Organisasi dan Metode
Organisasi kurikulum menunjukkan pada pengertian tentang bagaimana isi kurikulum yang berupa pengalaman belajar itu disusun dan diberikan kepada siswa. Bentuk organisasi itu sendiri ditentukan oleh bentuk atau jenis kurikulum yang disusun. Oleh karena itu, peranan bahan  atau isi kurikulum tidak begitu menonjol, karena yang paling penting adalah proses belajar yang dapat memberikan pengalaman sesuai dengan kebutuhan setiap siswa, baik fisik maupun psikis sesuai, dengan dengan bakat dan minat masing – masing. Pada kurikulum yang berpusat pada pelajaran, isi kurikulum diorganisasikan dalam bentuk mata pelajaran – mata pelajaran. Proses pendidikan banyak mengarahkan siswa mempelajari mata pelajaran – mata pelajaran itu.
Meskipun perkembangan ilmu pengetahuan pada dekade terakhir ini sudah mencapai taraf tinggi, namun bila diamati secara cermat, terutama dari sudut pandangan para ahli dalam disiplin ilmu terkait, pada setiap disiplin ilmu pengetahuan ada ide – ide pokoknya. Ide – ide pokok ini biasanya tidak terlalu cepat berkembang. Yang berkembang dengan pesat adalah fakta hasil berbagai penelitian, sebagai penerapan atau pengembangan ade – ide pokok tersebut.  Bruner ( 1960 ), menamakan ide – ide pokok tersebut dengan “ struktur ilmu pengetahuan “. Menurut Bruner, struktur inilah yang penting dipelajari oleh siswa, karena alasan – alasan sebagai berikut :
1.      Memahami ide pokok membuat seseorang mempunyai pemahaman yang luas tentang suatu bidang.
2.      Ide pokok dapat lebih mudah diingat untuk jangka waktu yang lama.
3.      Dengan memahami ide pokok, seseorang akan dapat mentransfer atau mengalihkan pada situasi baru.
4.      Dengan menguji kembali berbagai ide pokok dalam belajar, dapat mempersempit jurang pemisah antara pengetahuan dasar dan pengetahuan yang luas.
Hal yang sangat penting untuk diperhatikan dalam pembuatan rancang bangun kurikulum, terutama yang berkaitan dengan unsur organisasi dan metode adalah tentang bagaimana proses pendidikan itu sepatutnya berlangsung. Hal ini tentu harus mengacu kepada tujuan apa yang hendak dicapai serta sifat dari isi kurikulum itu sendiri. Dengan demikian kita tidak jatuh pada tempat yang salah dalam penyusunan dan pengembangan kurikulum.
Evaluasi Kurikulum
Komponen evaluasi sangat penting artinya bagi pelaksanaan kurikulum. Hasil evaluasi dapat memberi petunjuk kepada apakah sasaran yang ingin dituju dapat tercapai atau tidak. Disamping itu, evaluasi juga berguna untuk menilai apakah proses kurikulum berjalan secara optimal atau tidak.
Evaluasi kurikulum sepatutnya dilakukan secara terus menerus. Untuk itu perlu terlebih dahulu ditetapkan secara jelas apa yang akan dievaluasi, dengan menggunakan acuan dan tolak ukur yang jelas pula. Sehubungan dengan rancang bangun kurikulum ini, evaluasi dilakukan untuk mencapai dua sasaran utama, yaitu :
1.      Evaluasi terhadap hasil atau produk kurikulum.
2.      Evaluasi terhadap proses kurikulum.
Evaluasi hasil bertujuan menilai sejauhmana keberhasilan kurikulum dalam mengantarkan siswa mencapai tujuan. Dengan kata lain, evaluasi ini bertujuan menilai keberhasilan pencapaian tujuan. Evaluasi proses menilai apakah proses pelaksanaan kurikulum berjalan secara optimal, sehingga memungkinkan tercapainya tujuan. Kedua macam evaluasi ini sangat penting dilakukan sebagai dasar melakukan peninjauan kembali terhadap kurikulum maupun pelaksanaannya, sehingga dapat dijadikan dasar peninjauan kembali untuk mempertinggi keefektifannya.
Untuk dapat melakukan evaluasi kurikulum secara lebih baik, harus di pegang prinsif – prinsif dalam melakukan evaluasi. Prinsif – prinsif itu adalah sebagai berikut :
1.      Evaluasi mengacu kepada tujuan.
2.      Evaluasi dilakukan secara menyeluruh.
3.      Evaluasi harus obyektif.